Pagi-pagi sekali tgl 21 April 2008 Zahra sudah bangun. Maklum mau ke salon, kan hari ini hari Kartini. Jadi anak-anak TK memperingatinya dengan karnaval dan memakai pakaian daerah. Sampai di tempat penyewaan pakaian ternyata di sana sudah rame. Padahal baru jam 06.00 pagi. Wah rame banget, kapan selesainya nih kalau rame begini pikirku. Kita terpaksa ngantri nungguin yang udah datang duluan. 
Zahra pake kebaya warna Hijau yang lain pada pakai pakaian daerah Jawa, Padang, Betawi dll. Wah anak-anak ini pada cantik-cantik ya didandanin. Mereka juga kelihatan senang banget. Jam 08.00 baru selesai dandannya. Habis yang dandan hampir 30 orang. Kewalahan juga tu si ibu yang ngedandanin, cuma 2 orang. Jiwa bisnisnya langsung muncul. Wah enak juga nih bisnis ginian. Dalam waktu 2 jam bisa dapat uang hampir 2 jt an. Padahal cuma nyewain baju kecil-kecil sama ngedandanin. Tapi aku pikir lagi kan nggak terus-terusan juga. Cuma di hari-hari tertentu. Tapi lumayan juga lho yang mau buka usaha.
Ikutan drumband juga
Ya.., hampir semua murid sekolah mengetahui apa arti tanggal 21 April. Tanggal ini selalu diperingati bangsa Indonesia sebagai hari besar nasional, karena pada tanggal tersebut (21 April 1879) lahir seorang perempuan yang kemudian dikenal sebagai pejuang hak dan derajat bagi kaumnya. Siapa dia? Tidak salah lagi, Ibu Raden Ajeng Kartini. Untuk memperingati kelahirannya, biasanya murid-murid sekolah, khususnya yang perempuan, diharuskan mengenakan busana daerah. Berbagai perlombaan pun digelar dan yang dilombakan umumnya seputar kegiatan yang biasa dilakukan wanita, seperti memasak, merangkai bunga atau cara berbusana.Sebenarnya sih tidak ada hubungan antara jenis pakaian serta perlombaan yang bersifat kewanitaan, dengan hak-hak wanita yang diperjuangkan Ibu Kartini. Tetapi dengan berbusana daerah, paling tidak kita bisa mengenang sosok Ibu Kartini adalah wanita yang anggun tetapi memiliki semangat juang tinggi. Ibu Kartini-lah yang pertama kali berani menentang tradisi masyarakat saat itu yang tidak mengijinkan wanita bersekolah, apalagi ke jenjang pendidikan tinggi. Masyarakat menganggap wanita tidak perlu sekolah karena nantinya toh mereka akan ke dapur juga. Tetapi Ibu Kartini tidak bisa menerima hal itu. Ia menyadari pentingnya pengetahuan dan wawasan bagi seorang perempuan. Bukankah yang melahirkan dan mendidik anak-anak, adalah seorang ibu. Apa jadinya jika seorang ibu tidak mempunyai wawasan? Tetunya akan melahirkan generasi yang bodoh. Sehingga perempuan haruslah pintar dan berwawasan. Untuk memiliki pengetahuan yang cukup maka perempuan harus mempunyai kedudukan dan hak yang sama dengan pria. "Bukankah perempuan itu adalah manusia juga?" tulis Kartini dalam suratnya yang ditujukan kepada sahabatnya, Ny. Abendanon. Surat-suratnya itu dikumpulkan dan dibukukan serta diberi Nama "Habis Gelap Terbitlah Terang". Kartini memang sedikit lebih beruntung di banding perempuan-perempuan lainnya. Sebagai keturunan ningrat, Kartini sempat bersekolah dan berteman dengan anak-anak Belanda meski hanya sampai sekolah rendah (SD). Di usianya yang ke 12 tahun, seperti perempuan-perempuan Jawa lainnya di masa itu, Kartini harus berhenti sekolah dan dipingit. Padahal semangat Kartini untuk terus bersekolah sangat tinggi. Ia amat sedih harus meninggakan bangku sekolah dan menjalani hari-hari yang membosankan di rumahnya yang luas.Kendati ayahnya, Raden M.A.A. Sosroningrat sangat sayang kepada Kartini tetapi ia tak kuasa menentang tradisi dan menikahkan Kartini di usia relatif muda. Padamkah Cita-cita Kartini? Ternyata tidak. Setelah menikah dengan Bupati Rembang R.A. Djojo Adiningrat yang usianya jauh lebih tua, Kartini membuka sekolah sederhana. Dengan sarana seadanya Ibu Kartini memberikan pengetahuan kepada murid-murid perempuannya sehingga mereka memiliki pengetahuan dan wawasan. Sayangnya usia Ibu Kartini tidaklah panjang, ia wafat pada tahun 1904 dalam usia 25 tahun. Tetapi semangatnya terus hidup dalam diri perempuan-perempuan Indonesia hingga saat ini.Tidak salah kalau sebagai tanda penghormatan atas jasa-jasanya, tanggal kelahiran Ibu Kartini selalu kita peringati. Tetapi akan lebih berarti lagi jika kita bukan sekadar mengetahui atau merayakannya. Yang penting adalah justru meneruskan apa yang dicita-citakan ibu kita itu.Andai saja Ibu Kartini masih hidup, ia pasti cukup puas dengan apa yang telah dicapai kaum perempuan Indonesia saat ini. Hak dan derajat perempuan sudah sama dengan kaum pria. Ruang gerak perempuan tidak lagi hanya sebatas dapur, tetapi ia bisa menuntut ilmu se tinggi-tingginya. Saat ini wanita bisa menduduki jabatan apa saja dan di bidang apapun asalkan memiliki kemampuan. Tetapi kemajuan yang diraih perempuan Indonesia saat ini masih belum merata. Mereka yang maju umumnya hanya yang tinggal di daerah perkotaan. Coba kita tengok di pedesaan dan daerah-daerah terpencil, masih banyak perempuan yang memerlukan pertolongan, paling tidak dorongan semangat agar mereka mau berjuang untuk maju.Menjadi tugas kitalah untuk memberikan motivasi kepada mereka yang masih ketinggalan. Semoga mereka menjadi srikandi2 yang bisa memajukan perempuan Indonesia dimasa yang akan datang,-)
Salam Hangat Yenti Yulistia, YM : yenti_yulistia |